Menu

Sebutkan 6 ciri berpikir diakronis!

0 Comment

Pengertian diakronik adalah suatu yang melintas, melalui, dan melampaui dalam dalam batasan waktu. Pengertian Diakronik dalam peristiwa sejarah, sesuatu yang melintas, melalui, atau melampaui tersebut adalah peristiwa atau kejadian. Diakronik memiliki beberapa ciri-ciri diantaranya;

  1. Mengkaji suatu peristiwa dengan berlalunya masa, seiring waktu diakronis semakin rinci dalam menjelaskan peristiwa yang lampu dengan pemikiran-pemikiran baru sesuai dengan histori yang telah terjadi
  2. Diakronis bersifat vertikal, penjelasan yang diakronis tidak melebih-lebihkan dari apa yang terjadi namun dikembangkan dengan cara luas dan mendalam, sehingga hasil akan terlihat lebih rinci
  3. Cakupan kajiannya lebih luas, diakronis menghubung-hubungkan suatu peristiwa dengan peristiwa lain yang berhubungan dengan peristiwa tersebut, sehingga cakupan kajian yang dilakukan akan lebih meluas terhadap peristiwa lain
  4. Terdapat konsep perbandingan, dalam hal diakronis setelah melakukan kajian yang luas maka akan diperbandingkan dengan peristiwa tersebut atau peristiwa yang terjadi apakah sesuai atau tidak
  5. Bersifat historis, diakronis menjelaskan dengan sejarah bagaimana dan dengan apa suatu peristiwa terjadi, tidak hanya menjelaskan secara deskriptif namun menjelaskan sejarah bagaimana peristiwa itu dapat terjadi.
  6. Menitik beratkan pengkajian peristiwa pada sejarahnya

Diakronik berasal dari bahasa Latin, dari kata dia dan chronos. Dia artinya melalui dan chronos artinya waktu. Model diakronik lebih mengutamakan dimensi waktu dengan sedikit memperhatikan keluasan ruang. Model diakronik digunakan dalam ilmu sejarah sehingga pembahasan tentang suatu gerak dalam waktu dari kejadian-kejadian yang konkret menjadi tujuan utama sejarah.

Dengan demikian, model diakronik merupakan model yang dinamis, artinya memandang peristiwa dalam sebuah transformasi atau gerak sepanjang waktu. Topik sejarah yang diakronik, misalnya sejarah Kerajaan Kutai (abad IV-XIV) seajarah Kerajaan Mataram Kuno (abad VIII-X). Judul-judul tersebut sengaja diberi penanda waktu, semata-mata untuk menunjukan sifatnya yang diakronik, yakni lebih mengutamakan dimensi waktu

Konsep berpikir diakronik dalam sejarah bertujuan untuk melihat perubahan yagn terjadi dalam proses perkembangan peristiwa (Rachmawati, 2016: 3). Berpikir diakronik dalam sejarah artinya berpikir mengenai peristiwa sejarah secara menyeluruh dalam runtutan waktu yang panjang, tetapi terbatas pada ruang.

Berpikir diakronis mementingkan proses suatu peristiwa sejarah. Sebagaimana kita ketahui bahwa sejarah merupakan suatu kumpulan peristiwa. Setiap peristiwa yang terjadi tersebut dibatasi waktu. Tujuan konsep berpikir diakronik adalah untuk melihat perubahan yang terjadi dalam proses perkembangan peristiwa sejarah tersebut.

Cara berpikir diakronik mengajarkan kita untuk lebih teliti dalam mengamati segala atau fenomena tertentu dalam peristiwa sejarah. Berpikir diakronik menuntun kita melihat suatu peristiwa sejarah dari waktu ke waktu. Oleh sebab itu, dalam berpikir diakronik, diperlukan konsep periodisasi dan kronologi.

Sebagai contoh, jikat kita mempelajari sejarah Pemilu di Indonesia, kita dapat melihat bahwa terjadi dinamika jumlah peserta pemilu. Saat pertama kali diadakan tahun 1955, pemilu diikuti oleh banyak partai. Namun, pada Orde Baru terjadi penyederhanaan jumlah partai pemilu, dan saat Reformasi, parpol kembali diikuti oleh banyak partai.

Kerangka berpikir diakronik adalah memahami kehidupan sosial secara memanjang berdimensi waktu. Konsep berpikir diakronis memandang masyarakat sebagai sesuatu yagn terus bergerak, berproses dalam hubungan kausalitas atau sebab akibat. Dengan demikian, kerangkan berpikir diakronis memandang kehidupan sosial sebagai sesuatu dinamis yang artinya, terus menerus berproses dan berubah dari waktu ke waktu secara berkesinambungan.

Contoh cara berpikir diakronis antara lain ketika seorang peneliti menulis sejarah masyarakat suku Tengger, maka akan diuraikan secara kronologis proses terbentuknya suku bangsa Tengger sejak runtuhnya Majapahit, sampai dengan terbentuknya masyarakat Tengger yang berasal dari sisa-sisa masyarakat Hindu dari zaman Majapahit