Menu

Soal jawaban revolusi menegakkan NKRI

0 Comment

Hai teman-teman, semoga selalu dalam keadaan sehat dan sukses ya. Okay, pada kali ini admin akan memberikan contoh soal mengenai revolusi menegakkan NKRI. Soal tersebut dalam bentuk essay dan sudah ada jawabannya, semoga bermanfaat banyak.

1. Bagaimana usaha-usaha pemerintah Indonesia untuk menembus blockade ekonomi belanda?

Berikut usaha untuk menembus blokade ekonomi Belanda, yang dilakukan pemerintah Indonesia.
a. Usaha yang Bersifat Politis Indonesiamengirimkanbantuanberassebanyak 500.000 ton dengan harga yang sangat murah kepada India. Sebagai imbalannya, India mengirimkan bahan pakaian yang dibutuhkan oleh rakyat Indonesia. Usaha pemerintah ini berhasil, India menjadi negara Asia pertama yang paling aktif membantu Indonesia dalam perjuangan diplomatik di forum internasional.

b. Usaha yang Bersifat Ekonomis Pemerintah Indonesia mengadakan hubungan langsung dengan luar negeri, usaha ini dirintis olehBankingand Trading Corporation (BTC). BTC berhasil melakukan kontak dengan perusahaan swasta Amerika Serikat (Isbrabsten Inc) yang bersedia membeli barang ekspor Indonesia. Pemerintah Indonesia juga membentuk perwakilan resmi di Singapura yang diberi nama Indonesia Office (Indoff). Indoff secara resmi memperjuangkan kepentingan politik luar negeri Indonesia, sedangkan secara rahasia, Indoff mengendalikan kegiatan penembusan blokade ekonomi Belanda dan usaha perdagangan barter.

Kementerian Pertahanan juga membentuk perwakilannya di luar negeri yang disebut dengan Kementerian Pertahanan Usaha Luar Negeri (KPULN) yang dipimpin oleh Ali Jayeng Prawiro. Tugas pokok KPULN adalah membeli senjata dan perlengkapan angkatan perang. Tokoh yang terkenal dalam usaha menembus blokade adalah John Lie, O.P. Koesno, Ibrahim Saleh, dan Chris Tampenawas.

c. Kas Negara dalam Keadaan Kosong Pajak dan bea masuk pada awal kemerdekaan sangat sedikit sehingga pendapatan pemerintah semakin tidak seimbang dengan pengeluarannya. Penghasilan pemerintah hanya bergantung pada produksi pertanian. Berkat adanya dukungan dari para petani, pemerintah Republik Indonesia masih bisa bertahan, walaupun kondisi ekonomi sangat buruk.

2. Sebutkan tiga usulan tentang wilayah NKRI!

  • seluruh bekas wilayah hindia belanda
  • seluruh bekas wilayah hindia belanda ditambah malaya tetapi tudak termasuk papua
  • seluruh bekas wilayah hindia belanda ditambah Malaya, borneo, timor portugis, dan papua serta pulau-pulau yang berdekatan.

3. Jelaskan tentang latar belakang Perjanjian Renville!

Perjanjian Renville adalah perjanjian antara Indonesia dengan Belanda yang ditandatangani pada tanggal 17 Januari 1948 di atas geladak kapal perang Amerika Serikat sebagai tempat netral USS Renville, yang berlabuh di pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Perundingan dimulai pada tanggal 8 Desember 1947 dan ditengahi oleh Komisi Tiga Negara (KTN), Committee of Good Offices for Indonesia, yang terdiri dari Amerika Serikat, Australia, dan Belgia. Perjanjian ini diadakan untuk menyelesaikan perselisihan atas Perjanjian Linggarjati tahun 1946. Perjanjian ini berisi batas antara wilayah Indonesia dengan Belanda yang disebut Garis Van Mook.

Pada tanggal 1 Agustus 1947, Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa mengeluarkan resolusi gencatan sen jata antara Belanda dan Indonesia. Gubernur Jendral Van Mook dari Belanda memerintahkan gencatan senjata pada tanggal 5 Agustus. Pada 25 Agustus, Dewan Keamanan mengeluarkan resolusi yang diusulkan Amerika Serikat bahwa Dewan Keamanan akan menyelesaikan konflik Indonesia-Belanda secara damai dengan membentuk Komisi Tiga Negara yang terdiri dari Belgia yang dipilih oleh Belanda, Australia yang dipilih oleh Indonesia, dan Amerika Serikat yang disetujui kedua belah pihak.

Pada 29 Agustus 1947, Belanda memproklamirkan garis Van Mook yang membatasi wilayah Indonesia dan Belanda. Republik Indonesia menjadi tinggal sepertiga Pulau Jawa dan kebanyakan pulau di Sumatra, tetapi Indonesia tidak mendapatwilayah utama penghasil makanan. Blokade oleh Belanda juga mencegah masuknya persenjataan, makanan dan pakaian menuju ke wilayah Indonesia.

4. Bagaimana hasil Konferensi Inter-Indonesia I di Yogyakarta dalam bidang militer ?

  • Angkatan Perang RIS (APRIS) adalah angkatan perang nasional. Presiden RIS adalah panglima tertinggi APRIS.
  • Pertahanan negara adalah semata-mata hak pemerintah RIS, negara-negara bagian tidak akan memiliki angkatan perang sendiri.
  • APRIS akan dibentuk oleh pemerintah RIS dengan intinya angkatan perang Republik Indonesia, bersama-sama dengan orang Indonesia yang tergabung dalam KNIL, ML, KM, dan Territoriale Bataljons.
  • Pada masa permulaan RIS, menteri perta- hanan dapat merangkap sebagai panglima besar APRIS.

5. Siapakah delegasi yang ikut berunding pada Perjanjian Renville, dan sebutkan hasilnya serta tindak lanjut pasca perjanjian!

Pihak yang hadir pada perundingan Renville

  • Delegasi Indonesia di wakili oleh Amir syarifudin (ketua), Ali Sastroamijoyo, H. Agus Salim, Dr.J. Leimena, Dr. Coatik Len, dan Nasrun.
  • Delegasi Belanda di wakili oleh R.Abdul Kadir Wijoyoatmojo (ketua), Mr. H..A.L. Van Vredenburg, Dr.P.J. Koets, dan Mr.Dr.Chr.Soumokil.
  • PBB sebagai mediator di wakili oleh Frank Graham (ketua), Paul Van Zeeland, dan Richard Kirby.
  • Belanda berdaulat atas Indonesia sebelum Indonesia mengubah menjadi RIS (Republik Indonesia Serikat)

Isi perjanjian

  • Belanda hanya mengakui Jawa tengah, Yogyakarta, dan Sumatera sebagai bagian wilayah Republik Indonesia
  • Disetujuinya sebuah garis demarkasi yang memisahkan wilayah Indonesia dan daerah pendudukan Belanda
  • TNI harus ditarik mundur dari daerah-daerah kantongnya di wilayah pendudukan di Jawa Barat dan Jawa Timur

Pasca perjanjian

Sebagai hasil Persetujuan Renville, pihak Republik harus mengosongkan wilayah-wilayah yang dikuasai TNI, dan pada bulan Februari 1948, Divisi Siliwangi hijrah ke Jawa Tengah. Divisi ini mendapatkan julukan Pasukan Hijrah oleh masyarakat Kota Yogyakarta yang menyambut kedatangan mereka.

Tidak semua pejuang Republik yang tergabung dalam berbagai laskar, seperti Barisan Bambu Runcing dan Laskar Hizbullah/Sabillilah di bawah pimpinan Sekarmaji Marijan Kartosuwiryo, mematuhi hasil Persetujuan Renville tersebut. Mereka terus melakukan perlawanan bersenjata terhadap tentara Belanda. Setelah Soekarno dan Hatta ditangkap di Yogyakarta, S.M. Kartosuwiryo, yang menolak jabatan Menteri Muda Pertahanan dalam Kabinet Amir Syarifuddin, Menganggap Negara Indonesia telah Kalah dan Bubar, kemudian ia mendirikan Darul Islam/Tentara Islam Indonesia (DI/TII).

Hingga pada 7 Agustus 1949, di wilayah yang masih dikuasai Belanda waktu itu, Kartosuwiryo menyatakan berdirinya Negara Islam Indonesia (NII). Akibat dari Perjanjian Renville itu pula, pasukan dari Resimen 40/Damarwulan, bersama batalyon di jajarannya, Batalyon Gerilya (BG) VIII Batalyon Gerilya (BG) IX, Batalyon Gerilya (BG) X, Depo Batalyon, EX. ALRI Pangkalan X serta Kesatuan Kelaskaran, dengan total pengikut sebanyak tidak kurang dari 5000 orang, juga Hijrah ke daerah Blitar dan sekitarnya. Resimen 40/Damarwulan ini kemudian berubah menjadi Brigade III/Damarwulan, dan batalyonnyapun berubah menjadi Batalyon 25, Batalyon 26, Batalyon 27.

Setelah keluarnya Surat Perintah Siasat No I, dari Panglima Besar Sudirman, yang mengharuskan semua pasukan hijrah pulang dan melanjutkan gerilya di daerah masing-masing, Pasukan Brigade III/Damarwulan, di bawah pimpinan Letkol Muhammad Sroedji ini, melaksanakan Wingate Action, dengan menempuh jarak kurang lebih 500 kilometer selama 51 hari